Sejarah pendidikan nasional Indonesia tidak bisa dilepaskan dari masa kolonial. Pada periode deposit 25 bonus 25 ini, pendidikan yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda bersifat diskriminatif. Hanya golongan tertentu—khususnya bangsawan, keturunan Belanda, dan kelompok elite pribumi—yang mendapatkan kesempatan bersekolah.

Sekolah yang dibangun seperti ELS, HIS, dan MULO ditujukan untuk mencetak pegawai rendahan bagi pemerintahan kolonial. Sementara itu, masyarakat biasa sulit mendapatkan akses pendidikan. Kondisi ini menciptakan kesenjangan besar dalam kualitas sumber daya manusia.

Namun, masa kolonial juga melahirkan tokoh-tokoh pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara, yang kemudian mendirikan Taman Siswa pada 1922 sebagai bentuk perlawanan terhadap pendidikan kolonial yang tidak adil.

Perjuangan Pendidikan di Masa Kebangkitan Nasional

Memasuki awal abad ke-20, semangat kebangkitan nasional membuat pendidikan rtp slot hari ini semakin dipandang sebagai senjata perjuangan. Organisasi seperti Budi Utomo, Muhammadiyah, dan Taman Siswa mendirikan sekolah-sekolah untuk masyarakat luas.

Pada masa ini, pendidikan menjadi jalan untuk membangkitkan kesadaran nasional dan memperkuat identitas bangsa. Metode pengajaran pun mulai mengarah pada kebebasan berpikir, kemandirian, dan nilai-nilai ke-Indonesiaan.

Pendidikan Setelah Kemerdekaan: Membangun Sistem Nasional

Setelah 1945, pemerintah Indonesia menghadapi tantangan besar untuk membentuk sistem pendidikan nasional yang merata dan inklusif. Pada masa awal kemerdekaan, banyak sekolah rusak, kekurangan guru, dan minim fasilitas.

Namun, pemerintah terus berupaya menciptakan sistem pendidikan yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Lahirnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 menjadi tonggak penting dalam pembentukan sistem pendidikan nasional.

Fokus pembangunan pendidikan berjalan pada peningkatan fasilitas, penambahan sekolah, serta penyediaan guru yang lebih kompeten untuk mendukung kemajuan bangsa.

Era Orde Baru: Pemerataan Pendidikan dan Wajib Belajar

Pada masa Orde Baru, pemerintah menekankan pemerataan pendidikan. Program besar seperti Wajib Belajar 6 Tahun dicanangkan untuk memastikan seluruh anak Indonesia minimal menamatkan sekolah dasar.

Pemerintah juga membangun banyak SD Inpres, yang tersebar hingga pelosok desa. Kebijakan ini berhasil meningkatkan angka partisipasi sekolah dan memperbaiki tingkat literasi masyarakat.

Selain itu, kurikulum mulai diarahkan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demi menyesuaikan kebutuhan pembangunan nasional.

Pendidikan di Era Reformasi hingga Kini: Transformasi Digital

Memasuki era Reformasi, sistem pendidikan Indonesia mengalami perubahan besar. Pemerintah menjalankan desentralisasi pendidikan agar pengelolaan sekolah lebih dekat dengan masyarakat.

Perubahan kurikulum terus terjadi dari waktu ke waktu, termasuk Kurikulum 2013 hingga implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan kemandirian belajar dan kreativitas siswa.

Era modern juga membawa arus digitalisasi. Pemanfaatan teknologi seperti pembelajaran daring, platform edukasi, dan digitalisasi administrasi pendidikan kini menjadi hal yang tidak terpisahkan dari dunia sekolah.

Kesimpulan: Pendidikan Indonesia Terus Berkembang

Dari masa kolonial hingga era modern, pendidikan Indonesia telah melewati perjalanan panjang. Meski menghadapi banyak tantangan, upaya memperbaiki kualitas pendidikan terus berjalan. Harapannya, pendidikan Indonesia bisa semakin merata, inklusif, dan mampu mencetak generasi unggul yang siap menghadapi masa depan.